Friday, December 12, 2008

"Yaa, De, namanya juga Indonesia"

"..zaman sekarang cari duit ngga halal aja susah apalagi cari duit yang halal..."
 
Meskipun gw angkoters sejati (karena belum pakai kendaraan pribadi), tapi untuk urusan-urusan yang lebih penting gw lebih suka pakai jasa taksi. Biar lebih mahal sedikit tapi toh lebih nyaman. Karena keperluan taksi biasanya untuk tujuan yang jauh-jauh, daripada jadi kambing conge, mending gw ajak ngobrol sekalian aja supirnya. Ternyata kebiasaan 'wawancara' ini bisa jadi pengalaman yang cukup menarik bahkan menemukan kenyataan yang mengejutkan. Selain gw bisa melatih diri buat bersosialisasi, gw bisa mempelajari berbagai macam karakter orang, dan gw juga sedikit banyak jadi tahu dunianya mereka.
 
Orang-orang yang ditemui memang beranekaragam. Memang ada yang dasarnya suka banget cerita (sampai gw ngga dikasih kesempatan ngomong) tapi ada juga yang 'ngga mau kompromi' alias diem (ngomongnya kalau ditanya). Malesbanget kalau sampai ketemu yang seperti ini.
 
Sebut saja Pak Herning, supir taksi asal Bandung dari perusahaan berinisial 'BM' yang penampilannya sudah cukup berusia. Ia sudah 20 tahunan lebih mengabdikan dirinya menjadi supir taksi. Layaknya seorang ayah, ia memberi nasehat dan berbagai wejangan-wejangannya selama perjalanan ke rumah Apalagi setelah mengetahui kalau gw masih bersekolah. Kata-kata sakti supaya menghormati orang tua, menyayangi saudara, menyayangi teman, dan bla bla bla... Wuiiiihh...Untung saja saat itu jalanan ngga macet.
 
Adapula Pak Ade, seorang supir taksi perusahaan 'GR', asal Tasik yang sudah berkeluarga di Bandung. Orang ini selama perjalanan mencurahkan kekesalannya pada Pemda Bandung yang memasukkan perusahaan taksi dari Jakarta. "De, kumaha oge pasti aya ulin duitna" (Bagaimana juga pasti ada permainan uangnya).
Yaa memang, semenjak Indonesia terkena krismon tahun 1997, segala harga melonjak termasuk tarif taksi. Sejak saat itu, penggunaan taksi cukup menurun karena kalah bersaing dengan angkot. Apalagi sekarang ditambah harga motor yang murah abis. Ia menceritakan juga kejadian beberapa waktu lalu saat seluruh supir taksi di Bandung melakukan demo menolak perusahaan asal ibukota masuk Bandung.
 
Lain halnya dengan Pak Aji, ternyata beliau baru beberapa tahun terakhir bergabung dalam dunia pertaksian. Sebelumnya ia supir seorang pejabat di Bandung. Akan tetapi, ia diberhentikan sejak majikannya pensiun. "Bila dibanding sekarang, yaa penghasilan lebih nikmat dulu lah, De. Apalagi saya senang bisa ketemu para pejabat Indonesia. Yang mau diantar ke sana lah ke sini lah". Juga pengalamannya selama 3 tahun bekerja pada sebuah perusahaan asing yang menjadikannya cukup fasih berbahasa Inggris dan marketing. Ia memberikan nomor handphone nya kalau-kalau gw perlu taksi di kemudian hari...Siip beneeer...
 
Lain Pak Aji, lain lagi Pak Teguh... Sesuai dengan namanya beliau ini punya idealisme yang tinggi dan segudang pengalaman di berbagai bidang. Perusahaan minyak, surveyor tanah untuk arsitek, perindustrian, perusahaan listrik, dan lain-lain. Sebelumnya, ia adalah seorang kepala gudang PLN. Bertugas mengawasi masuk keluar nya barang PLN. Ia juga sempat mengepalai beberapa proyek PLN dari Tasik-Tangerang. Saat gw tanya alasan keluar dari PLN, dia menjawab, "De, kalau di lihat secara materi, saya juga ngga mau munafik, di sana (PLN) lahannya lebih basah daripada kerja ginian. Tapi saya ngga tahan kerja di sana. KKN nya apalagi korupsi, udah terang-terangan dan ngga tanggung-tanggung mainnya ratusan juta. Apalagi posisi saya sebagai penanggung jawab gudang yang pegang barang harganya miliaran, saya sempat difitnah teman saya sendiri supaya saya dikeluarkan dari PLN. Belum lagi berurusan sama maling-malingnya. Yaa, bener-bener ngga tahan." Kemudian, gw tanya pengalamannya sekarang, "Apa saja saya mah kerjakan yang penting halal. Yaa, De, namanya juga Indonesia, cari duit ngga halal aja susah apalagi mau cari yang halal".

Merry Christmas 2015!