Thursday, September 23, 2010

Hati yang Melayani

Serve Him!


[untuk kalangan sendiri]

Selalu muncul pertanyaan ketika saya melihat orang melayani. Apakah orang itu melayani (orang lain) dengan sungguh-sungguh? Artinya benar2 untuk menjadi berkat bagi yang dilayani?

Seorang pelayan restoran ataupun yang bekerja untuk melayani orang lain pasti tidak asal langsung kerja. Orang tersebut harus mendapat pendidikan yang layak dulu dan lulus tes sampai diberi sertifikasi keahlian untuk menjual jasanya. Dengan begitu, pihak yang mempekerjakan orang tersebut mendapat ‘ketenangan’ bahwa orang yang dilayani akan mendapat berkat (baca kepuasan). Kalau puas berarti jaminan bahwa tempatnya akan semakin ramai dikunjungi.

Ambil contoh seperti restoran, hotel, dan toko. Karyawan bisa dibilang sebagai salah satu pemegang kunci sukses. Sukses atau tidaknya kan tergantung banyak sedikitnya yang beli. Banyak sedikitnya pembeli tergantung dari orang yang mau mampir dan karyawan adalah ‘tentara’ garis depannya.

Dari perbandingan tadi, saya coba melihat kondisi yang terjadi di gereja. Nyatanya ngga sedikit juga pelayan yang bukan pelayan. Belum punya hati hamba yang cukup. Jika memang belum cukup, lebih baik terus balajar melayani tapi jangan melayani orang lain lebih dulu. Ketika orang belum siap melayani (orang lain) dan dipaksa melayani maka yang terjadi bukannya menjadi berkat tetapi malah menjadi batu sandungan.

Di sisi lain, ketika kasus bertambah lebih banyak yang ‘tersandung’ daripada yang terberkati, bagaimana pendapat orang-orang yang lihat? Contohnya, dalam suasana ramai dan panasnya Piala Dunia, beberapa para pelayan lebih memilih menonton pertandingan (di gereja) daripada mendengar khotbah. Mungkin memang dipikir aman ‘ngga ada yang lihat’ karena ngga ada yang lihat. Apa begitu? What if… ada yang lihat?

Bagaimana gereja bisa menjangkau lebih untuk Tuhan kalau para ‘tentara’ garis depannya saja pada lengah? Hmm…

***

STORY :

Keadaan disini since I become (professionally) alah..as an au pair (it's kinda half-nanny buat yg belum tau,hehe,google ajah) it's not easy at all. Banyak benturan-benturan nilai dan prinsip yang sudah dipegang kuat-kuat dan dijadikan visi target ataupun tujuan, whatever just name it, that suddenly become..buff! gone.

New values that I learn and more over it's crashing my head and open my eyes wider how to become humble.

Beuh.

Edan, susah pisan.

So, a little story..pagi ini as usual I feed the kids and prepare them to play outside because kindergarten close today and tidied up their room. Finished. then I went to basement to put kid's clothes into washing machine, etc. Dalam hati.."huah, edan eh, cape pisan...dari kemaren baking beres-beres maen ma mereka, edan, tiap hari ini teh harus gini??Gelo..kapan ada waktu tenang sih. Just one day full tanpa harus bangun jam tujuh tiga puluh setiap pagi diantara hari Senin-Jumat ini"

and then Roh Kudus dengan damai berkata.."yan***, when you serve people, you're need is no more important"...JRENG...the it continues "and more over when you serve God and worship Him, Tuhan semakin besar kamu semakin kecil..you will not see what you need what you want you just worship"...

Oh Tuhan, I knew it since long. Tapi........*anggeur pengen ada pembenaran*

then, I said "Ooh, Ya Tuhan no -tapi,tapi,tapi lagi-" hehe...

It's true it's no important anymore, my needs my wills etc when I come to my knees to worship.

it's only about Him.

for example when I served and helped the kids everymorning and afternoon, we become closer and closer, they're happy and they even learn how to behave more and more because I tried to serve them with all of my heart (gawat pisannn..kamarana ateuh) jauh banget bedanya kalo just do it tanpa sepenuh hati (it happened couple time, disaat lg -ga mood-, hayah) mereka jadi bawel dan minta perhatian lebih. Children has a sensitive feeling and heart.

More over, God. He know our hearts, He even know our thoughts.

Filipi 2:5-7

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Let's worship Him (again)

tanpa embel-embel I need this and that, just worship.

God speed!

tengkyu buat YS atas pinjaman ceritanya.. GB!

Merry Christmas 2015!