Sunday, April 08, 2007

segelintir kehidupan di semester 1

Tetap saja subyektif..

Kuliah di arsitek memang susah-susah gampang buat gw. Pertama, gampangnya, karena ini jurusan terfavorit gw sejak smp dulu. Susahnya, bila bertemu dengan mata kuliah tertentu yang jumlah dosennya terbatas, bahkan sangat terbatas, untuk mengajar di bidang tersebut. Dan memang, gw lihat, mata kuliah seperti ini merupakan mata kuliah pemahaman. Artinya, mata kuliah tersebut bertujuan untuk mengatur, mengubah pemahaman seseorang atas hal tertentu. Kalau sudah paham, tentu akan mengubah pola pikir orang itu juga. Jadi, ya memang jelas kenapa jumlahnya sedikit, karena kualitas dosen buat ngajar yang ginian pun sedikit.

Untuk menghadapi proses yang kaya gitu jelas ngga gampang buat dosen. Si dosen harus punya cara jitu supaya anak didiknya bisa menangkap maksud dan tujuan si dosen. Si dosen juga harus punya cara jitu supaya kalau sudah paham, anak didiknya juga bisa punya pola pikir yang sudah benar. Supaya terus ke depannya si anak didik ngga salah lagi. Mungkin, salah satu caranya si dosen membuat suasana kuliahnya senyaman mungkin. Kalau nyaman, diharapkan anak didiknya juga bisa menerima kuliah dengan santai. Apalagi kalau anak2 didiknya juga respek sama dosen, pasti lebih gampang lagi.

Nah, buat gw itu bakal masalah. Dengan beberapa semester kedepan akan bertemu dengan mata kuliah serupa dengan dosen itu-itu aja. Biarpun kuliahnya memakai referensi cukup bergunung. Mau ngga mau, pola pikir gw akan terus “dipatok” dengan aturan yang sifatnya bakal cenderung subyektif. Kalau dia bilang jelek, ya jelek. Kalau dia bilang bagus, ya itu bagus. Walau si dosen mengatakan bahwa kuliahnya bukanlah doktrin atau semacamnya, ke-subyektif-an pasti ada. Dan subyektif nya itu pasti tetap ada. BIkin persaingannya tidak sehat. Yaa dosen cowo atau cw sama saja. Tapi tentu lebih banyak kasus pada yang cowo.

Contoh, pertama, bila si dosen sudah tidak bisa adil terhadap anak didiknya ( berdasarkan gender). Kalau seneng dengan yang cw, pasti yang cowo bakal susah dapet nilai. Begitu juga sebaliknya. Jadi, banyak anak2 yang udah belajar mati-matian dan mengerti tapi nilainya A (Ancur), dan ada anak2 yang (bisa dibilang) ngga belajar, ujiannya ngecap abis tanpa mengerti apa-apa tapi nilainya A (Applause).
Kedua, bila si dosen bilang gaya arsitektur A jelek, maka anak didiknya (cenderung) mengatakan gaya A pun jelek. Tetap memaksakan pendapat bahwa gaya arsitektur A bagus, maka nilai tentu bakal buruk, bagaimanapun alasannya.

Hal diatas sedikitnya sudah terbukti dari hasil UTS dan UAS semester 1… Sedikit terbukti, dimana beberapa teman (yang cowo) tampak uring-uringan dan sewot-sewot setelah melihat hasil yang keluar. Hasilnya…tampak lah ternyata bukan 1 dosen saja yang begitu. Salah satu bukti, IPK mahasiswa >3 jumlahnya kurang dari 10, tetapi IPK mahasiswi >3 jumlahnya 20-an. Sebaik dan sebagus apapun dosen ngga akan bisa menilai 100% obyektif.
*******Akhirnya, mau ngga mau, harus mengikuti dulu “resep” dosen yang ada, walau ngga suka. Geuleuh pisan… Apalagi bila udah ngga respek lagi ama dosennya.. Jadi susah semua…*******


“Kite rises with the wind, not because of it” (Confucius)

>_as’07_<

Merry Christmas 2015!