Thursday, April 12, 2007

kesan pertama

Beberapa waktu lalu, seorang HT (hamba tuhan) yang telah dijadwalkan dalam sebuah PD, berhalangan hadir. Beliau menelepon kepada pemimpin PD bahwa ia meminta maaf tidak bisa memenuhi janjinya beberapa bulan lalu.

Kabar yang seperti itu jelas bukan untuk pertama kalinya bagi pemimpin PD, tetapi pemberitahuannya yang mendadak akan menyulitkan bagi si pemimpin untuk segera mencari penggantinya. Lalu, “…tapi, Pak, tenang saja, saya sudah menyiapkan anak buah, tangan kanan saya untuk menggantikan besok…” lanjut suara di seberang sana. Si pemimpin pun lega karena tidak perlu mencari gantinya.

Keesokan harinya…
“Mana orang penggantinya?” saya membatin. Tak lama kemudian tampak seseorang menaiki tangga. Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, wajahnya dan potongan rambutnya tampak masih sangat muda. Sedikit banyak mengurangi persepsi saya & mungkin juga orang lain akan kesan berwibawa. Namun, orang itu berpenampilan sangat rapi. Berbalut jas hitam, berdasi merah maroon bermotif, dan kemeja polos bergaris. Ia membawa sebuah tas berukuran sedang yang dipastikan berisi sebuah Alkitab dan berkas-berkas khotbah. Ia berjalan dengan tegas dan pasti menuju barisan bangku terdepan begitu juga saat naik mimbar, menandakan kesiapan akan tugasnya malam itu.

Sejak pertama kali berbicara, ia merubuhkan semua tembok persepsi orang-orang akan dirinya. Saya juga. Suaranya begitu lantang di seluruh ruangan. Sampai tamatnya pun, ia telah menyampaikan FT yang runtut dan mendalam. Kecil-kecil cabe rawit, sudah pedas sebelum digigit.

Kejadian dia atas saya bisa belajar :
HT yang berhalangan:
Ketika ia mengabarkan tidak bisa hadir, ia sekaligus memberi solusi bagi pemimpin PD dengan mengutus tangan kanannya sendiri. Jelas, ia mencoba memberikan solusi terbaiknya. Berikan solusi terbaik.
Sang tangan kanan:
+ Ia bisa tetap pede dengan keadaan dirinya; apa adanya
+ Ia menunjukkan kualitasnya sebagai HT, kualitas profesionalitasnya, kulitas terbaiknya sehingga tidak dianggap remeh orang lain.

Sudah pasti, kita perlu menghargai lebih dulu sebelum kita ingin dihargai. Buktikan kapasitas bahwa kita tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika begitu, orang lain akan menghargai & hormat dengan sendirinya. Dibarengi kerendahan hati, menjadi cikal bakal apa yang disebut “kepercayaan”.

Merry Christmas 2015!