Wednesday, March 14, 2007

dewasa itu pilihan

Sekarang ini, kuliah sudah sampai UTS semester 2. Benar-benar tidak terasa sudah selama itu dan secepat itu. Padahal rasanya baru kamaren ini masuk kuliah sambil diospek. Rasanya cukup mengherankan lihat teman-teman yang masih bisanya mengeluh terus kalau dapet tugas-tugas kuliah. Dikit-dikit ngeluh, dikit-dikit ngeluh. Memangnya separah itu ya? Malah harusnya bersyukur kalo tugasnya udah lebih ringan dari tahun lalu. Arsitek memang kuliah yang cukup sarat dengan tugas-tugasnya. Ya mau bagaimana lagi, toh kita bisa juga karena latihan terus-menerus. Emangnya tidak ada hal lain yang lebih pantas diomongin? Ada kalanya saya juga merasa terbebani dengan tugas yang numpuk kaya ngga ada habisnya, tapi apa harus terus-terusan? Waktu kan jalan terus kalau tidak dipakai sebaik mungkin yang ada malah saya yang ketinggalan sendirian. Berdiam dalam ketertinggalan dan memandang kagum teman-teman yang berhasil dan sukses? Hiiiiiyyyy…..

Saya bilang kuliah di sini saingannya ketat. Banyak orang yang better. Mereka punya kelebihan-kelebihan tersendiri. Macem-macem. Bayangan saya dulu, masuk arsitek berarti ketemu dengan orang-orang yang memang punya pandangan2/pemikiran2 hebat (karena harus memikirkan dan memberikan solusi2 yang cepat dan tepat. Memang begitu). Alhasil, sejak masuk, bertemu dan berkenalan, bahkan sampai sekarang, saya rasa hanya beberapa orang (tidak lebih dari 5) saja yang benar-benar punya daya pikir hebat (mungkin nantinya bisa lebih hebat/kritis lagi) atau saya yang memang belum tahu atau dianya yang ‘pengecut’ tidak mau show off dari sekarang? Kenapa tidak, justru bibit2 kaya gitu kan yang dicari?
Saya jadi agak ketakutan juga dengan ucapan seorang dosen yang mengatakan biro-biro arsitek sekrang ketakutan bila mempekerjakan orang dari angkatan 2000 ke atas. Beliau bilang kalau ternyata angkatan2 itu terlalu banyak disuapin. Ya tidak salah juga. Di dunia kerja persaingannya bakal lebih ketat lagi. Arsitek kan harus punya banyak pengalaman?


Tiap –tiap orang dalam hidup pasti selalu berhadapan dengan pilihan. Bahkan hidup itu sendiri pilihan. Ya atau tidak. Maju atau mundur. Setiap pilihan punya resiko masing-masing. Siap-tidak-siap harus siap. Kalau tidak berani ambil resiko, tidak akan maju. Biarpun harus ketemu kegagalan, at least udah ambil tindakan untuk mau maju. Sebagai contoh, katakanlah saya masuk UnPar juga resiko perjalanan jauh, masuk jurusan arsitek resiko dengan tugas, jarang2 main, begadang. Harus berani ambil resikonya toh? Tiap tindakan juga ada resikonya.
Sekarang udah kuliah semester 2, bo. Ngga kaya semester 1 ato SMA dulu lagi. Terserah apa mau maju terus atau hanya berdiam diri.

“The reason I know so much is because I have made so many mistake.” (R. Buckminster Fuller)

"Sukses seringkali datang pada mereka yang berani bertindak dan jarang menghampiri mereka yang tidak berani mengambil konsekuensi." (Jawaharlal Nehru)


>_as’07_<

Merry Christmas 2015!