Monday, January 07, 2013

Gambar Kartun (1)



Seni dalam menggambar memang banyak macam aliran. Setelah cukup banyak berlatih untuk menggambar arsitektur, bangunan, landscape, suasana, dan lain-lainnya, saya mencoba untuk menggambar kartun. 

Tahun ini saya coba untuk merambah pengalaman di dua bagian lain, yaitu kartun dan portrait/realis. Selama ini saya ngga bilang spesifik itu kartun, selama ini saya lebih sering menyebutnya “ilustrasi” saja. Bukan kartun seperti tokoh dan film anak-anak, tapi lebih mengarah kepada ilustrasi suatu isu atau peristiwa.

Saya merasa kartun dan ilustrasi sama saja. Oleh karena itu, kedua istilah di dalam cerita di bawah, saya anggap sama saja.

Koleksi gambar kartun yang saya bikin memang tidak banyak dan masih merupakan konsumsi pribadi saja. Paling tidak saya post di FB sehingga keluarga atau teman bisa lihat. Saya masih tahap belajar dari kartunis-kartunis terkenal. Ada kartunis/ilutrator yang saya temui di FB, jago untuk menyampaikan kritik-kritik tentang pemerintah. Banyak ilutrasi/kartun yang saya pelajari berasal dari luar (kan ada internet), dengan variasi dan tendensi kartun yang bermacam-macam juga.
Lewat pengalaman (yang masih sangat sedikit), saya mau sedikit share tentang gambar kartun/ilustrasi ini. Buat teman-teman yang bertanya tentang ini.
__
Idenya dari mana sih?
Ternyata, banyak hal yang saya senangi dari menggambar kartun. Membuat kartun menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk mengungkapkan kritik, komentar, dsb.
Setidaknya, menggambar ilustrasi seperti itu melatih untuk terus berpikir dan mengeluarkan pendapat secara kritis. Sumbernya, bisa macam-macam. Umumnya, berasal dari kehidupan sehari-hari, peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar, isu-isu pop culture, isu-isu poleksosbud (politik, ekonomi, sosial-budaya).

Ide-ide yang saya dapat untuk menggambar bisa bermula dari gambar atau tulisan. Ide dari gambar seringkali bermula dari corat-coret garis atau ide-ide kasar yang saya dapat kemudian saya corat-coret dulu supaya ngga lupa. Setelah gambarnya di perbaiki supaya lebih enak dilihat, barulah saya mencocok-cocokan kira2 isu apa yang cocok.

Ide yang datang dari tulisan, biasanya muncul dari post-post teman di FB atau saya sengaja corat-coret ide-ide di kertas sebagai pancingan. Misalnya saya tulis beberapa kejadian menarik yang terjadi selama beberapa hari terakhir, atau isu-isu yang sedang hangat di berita. Lalu, saya coba jabarkan masing-masing ide tadi. Diperinci hal-hal apa saja yang berkaitan dengan ide atau apa saja yang saya gambar. Bisa juga saya kaitkan dengan isu-isu yang berbeda sehingga seolah-olah berhubungan.

Ngga selalu ide-ide awal tersebut berakhir ‘sukses’ dan menjadi sebuah kartun/ilustrasi final. Sepuluh ide yang saya tulis mungkin hanya bisa final 1 atau 2. Kenapa ngga semua? Saya secara pribadi merasa bahwa tidak semua ide-ide tersebut ‘pantas’ dikonsumsi secara umum.

Ilustrasi untuk semua
Seseorang ngga bisa menyenangkan semua orang. Sama halnya, ngga semua kartunis disukai masyarakat dan ngga semua masyarakat menikmati kartun-kartun seorang kartunis. Setiap orang punya kesukaannya masing-masing. Misalnya, saya melihat ada kartunis yang senang menyinggung isu tertentu, tapi kartunis terkenal hampir bisa masuk ke semua isu. Yaa ini bagaimana pengalaman kartunis untuk menyampaikan pesan lewat gambar yang mudah dibaca, dimengerti, dan yang penting bisa diterima masyarakat.

Saya mencoba mengelompokkan tipe-tipe kartun/ilutrasi yang ada, dari sisi audiencenya :
1. Diterima oleh masyarakat dan pastinya (para) kartunis lain.
Saya belajar dari kartunis-kartunis di Amrik (yang berusaha mendapat penghasilan dari kartun yang masuk koran atau majalah), mereka memang mencoba bekerja ‘tanpa-batas’. Artinya, segala ide mau itu baik atau buruk, tulis saja dulu. Bisa saja dari menyinggung hal SARA atau orang tertentu. Terserah editor media untuk menyaring kartun tersebut. Nah, kerja sepertinya kerja editor di sini berusaha untuk memilih kartun/ilustrasi yang bisa dinikmati masyarakat. Bukan yang asal-asalan.
‘paling mudah’ ya mengikuti ide-ide atau berita yang sedang hangat dan gambar pun tidak menggunakan asosiasi/perumpamaan yang terlalu jauh. Sekali atau dua kali lihat, bisa dimengerti.

2. Tidak diterima masyarakat tapi diterima kartunis.
Seperti saya sudah bilang sebelumnya, kartunis yang saya mencoba bekerja tanpa batas. Ide-ide yang muncul mungkin tidak bisa diterima orang kebanyakan tapi masih bisa diterima dan dimengerti oleh kartunis lain.Iide-ide ini sebenarnya belum tentu ide yang buruk, bahkan bisa merupakan ide yang luar biasa lucu.

3. Tidak diterima oleh kartunis-nya.
Tidak diterima masyarakat karena sejak awal kartunis pun menolak. Seperti 10 ide yang saya corat-coret, tidak semuanya final. Akhirnya, mungkin hanya 1 atau 2 gambar yang saya post di FB atau jadi ilustrasi blog. 

Biasanya sisa ide corat-coret yang ngga terpakai saya buang, tapi karena saya pikir sayang juga hasil mikir susah-susah dibuang, jadi saya simpan. Lagi, ide-ide yang saya tolak secara pribadi mungkin belum tentu ide yang buruk bagi orang lain atau kartunis lain.

Mungkin karena saya masih pilih-pilih untuk kartun yang digambar. Misalnya, untuk isu politik memang sangat banyak untuk dijadikan ide. Tapi karena isu yang hot-nya tentang KKN, akhirnya saya malas juga kalau harus berpikir tentang kritik2 terus tiap hari. Jadi saya agak stop untuk hal-hal seperti itu. Kemudian, saya beralih untuk coba menggambar dari sisi-sisi positifnya saja, seperti tentang Jokowi-Ahok.

4. Tidak diterima masyarakat juga tidak diterima kartunis.
Ini bisa jadi merupakan kartun yang buruk, benar-benar buruk dan kartun-kartun yang biasa-biasa saja. Entah gambar penyampaian, ide, atau lainnya.

Share
Saya coba ambil beberapa gambar randomly untuk dishare… Belum tentu yang terbaik, tapi tidak yang terburuk juga.
 1. Bom Melon

Gambar ini saya buat September 2010, idenya datang ketika banyak kasus tabung gas LPG 3 kg yang meledak. Tabung gasnya yang berwarna hijau, seringkali dibilang “Bom Melon”.
Seperti bom karena kebanyakan masyarakat memang tidak tahu kapan tabung ini meledak. Memang banyak sebab, apakah masyarakat yang tidak terbiasa pakai kompor gas atau pihak produsen yang membuat barang cacat.

Gambar ini salah satu yang berawal dari ‘tulisan’ (di berita). Saya gambar ilustrasinya secara langsung dengan tabung gas yang dibuat menyerupai bom, lengkap dengan tali sumbunya. Saya tambah dengan  bayangan tengkorak imut (iyah gitu? :P) di tabungnya, untuk mengingatkan bahwa kejadian-kejadian ini memakan korban jiwa.

Untuk melengkapinya, saya coba buat pantun :
Maksud hati memeluk gunung, apa daya Sinabung meletus
Maksud hati mencari untung, apa daya tabungnya meletus

Saya tidak sengaja mencari nama gunung supaya sesuai dengan iramanya, tapi kejadian Bom Melon ini hampir berbarengan (rasanya muncul lebih dulu) dengan meletusnya Gunung Sinabung. Sama seperti tabung 3 kg yang terpaksa kehilangan harta bahkan nyawa karena tabung gasnya meledak.

2. Cowo dan Cewe
Gambar ini pun muncul dari ‘tulisan’. Saya membaca post teman, MW di wall FB nya :
“Girl you should with the man who love you, not the man you love”
Saya tidak tahu dari mana teman saya mendapat kalimat itu, entah mengutip atau merupakan hasil obrolan dengan teman-temannya. Dari kalimat itu, saya corat-coret kalimat-kalimat yang bisa melengkapi. Lalu, saya ambil satu yang menurut saya paling bagus :
“Laki-laki menang milih, perempuan menang menolak”

Yaa memang di jaman emansipasi gini, boleh dong cewe yang melakukan agresi lebih dulu. Yaa ngga salah. Ide kalimat itu berawal dari kebanyakan norma di masyarakat secara umum yang bilang bahwa lebih baik bila cowo yang lebih agresif ketimbang cewe. Saya hanya mencoba berpikir konvensional, bahwa perempuan harus mempertahankan harga dirinya, seperti kebiasaan budaya dulu. Dulu belum dan ngga selalu berarti kolot.

Dari situlah saya muncul dengan ide permainan yang dulu suka ada di pusat perbelanjaan. Masukkan koin, kemudian gerakkan tuasnya, pilih barang yang mau diambil (kebanyakan isinya boneka). Di sini saya membayangkan apa jadinya kalau boneka yang mau diambil bisa menolak untuk diambil. Haha.

3. Merry Christmas (2011)

Gambar ilustrasi untuk Christmas ini salah satu contoh juga yang muncul dari corat-coret gambar. Sayangnya, gambar corat-coret ide awal itu saya buang. : (
Corat-coret awalnya, terjadi beberapa tahap untuk mengubah angle/sudut gambar, benda-benda yang digambar, dan apa saja yang harus digambar.
Draft yang final saya gambar ulang dan finishing di kertas yang baru.
 
Saya ambil contoh beberapa karena saya ingat kata-kata di kaos Joger, intinya : “Baik untuk kami, belum tentu baik untuk orang lain”
Semoga share pengalamannya bermanfaat. God Bless!!

God Bless Indonesia!

Merry Christmas 2015!