Showing posts with label Food for Thought. Show all posts
Showing posts with label Food for Thought. Show all posts

Monday, December 29, 2014

Review 2014 : Comfort Zone


Berkaca pada kejadian selama setahun ini, salah satu pelajaran yang bisa diambil adalah
keluar dari zona nyaman.

Pengalaman selama ini saya bisa bandingkan dengan pertandingan Amazing Race. Sebuah reality show yang cepet-cepetan nyampe di tempat tujuan, sambil melakukan berbagai tantangan. Nah dalam setiap tantangan, setiap peserta akan diberikan pilihan untuk memilih tantangan mana yang mau dilakukan. Pasti, semua peserta juga memilih tantangan yang diduga/dikira sesuai dengan kemampuan si peserta. Ada satu istilah dalam permainan tadi, yaitu Detour di mana peserta diminta mengambil jalan putar untuk ke tempat tujuan. Agak tricky, harus cerdas apakah detaour ini akan mempercepat perjalanan atau menghambat.

Ada saatnya seseorang harus keluar zona nyaman. Zona ini memang kelihatannya enak banget. Tapi berada di dalamnya bukan menjadi pilihan satu-satunya. Keluar dari zona ini juga bukan berarti bakal mati total. Sama seperti permainan tadi, harus cerdas juga keluar dari zona nyaman bukan mencari a dead end  tapi detour dalam perjalanan (hidup).

Berada terlalu lama di zona nyaman, berarti makin sedikit tantangan yang diterima. Semakin dikit tantangan yang diterima, makin sedikit juga usaha untuk mengembangkan diri.

Salah dua hal yang dipelajari adalah yang namanya menjadi guru atau dosen, tanggung jawabnya tidak hanya sebatas mengajar dan mengajar tapi juga menjadi pendidik. Zaman sekolah sekarang berbeda dengan zaman sekolah dulu. Lagi, harus cerdik dan cerdas dalam mengajar dan mendidik.

*Keep praying for QZ 8501*

Pray for Indonesia, Jesus Bless Indonesia!

Saturday, March 15, 2014

Food Drawing

SUSHI, Waraku, PVJ

Sharing-sharing...dari yang bertanya...


Why?

Beberapa bulan lalu saya coba untuk melatih menggambar makanan. Kenapa makanan?

Pada awalnya, ketertarikan ini hanya coba-coba setelah terpancing melihat beberapa posting yang saya  lihat di blognya urban sketcher. Beberapa orang yang saya perhatikan cukup sering menggambar dan mewarnai entah sarapan atau makan siang, atau saat santai di sebuah coffee shop.

Sampai pada suatu hari saya melihat sebuah post yang sangat menarik hati (halah...) dari urban sketcher - saya lupa namanya- tapi kalau tidak salah ingat ia menggambar croissant dan secangkir kopi. Garisnya begitu luwes. Sapuan kuas cat airnya tidak memenuhi bidang gambar, tapi makanan itu kelihatan 'hidup'.

Dari situlah saya mulai berlatih ngasah skill gambar di situ.

How?
Ternyata hobi ini bisa menjadi perjalanan menarik juga untuk sekaligus keliling kuliner. Nyoba-nyoba makanan , ngga hanya rasa tapi sekaligus memperhatikan plating nya.

Sekarang, dengan banyaknya bantuan sos-med seperti instagram, sangat mudah untuk mencari foto-foto makanan untuk digambar. Orang-orang dengan beragam kemampuan mengambil angle yang pas untuk mengabadikan makanan. Saya bisa berlatih dengan menggambar ulang dan berlatih mewarnai sampai makanan itu kelihatan 'hidup'.

Bahkan, adanya sos-med, kesempatan itu seperti unlimited. Contohnya, ketika saya mem-follow postingan makanan 2-3 orang, belum beres berlatih satu gambar, sudah ada gambar-gambar yang lainnya!

Kesempatan sudah ada, tinggal bagaimana mau latihan saja.
Salah seorang urban sketcher bilang di postnya...kurang lebih "Mau bisa bagus yang ngga instan. Semua ada prosesnya. Masalahnya apa mau berproses lewat latihan-latihan dari kesempatan yang udah ada atau ngga. Pilihan :)"

What?
Akhirnya, inilah salah satu sarana yang saya pakai buat promosi Indonesia ke luar negeri. Nggambar makanan khas Indonesia...

Pray for Indonesia, Jesus Bless Indonesia!

Thursday, November 14, 2013

God Provides

 




Tuhan menciptakan setiap manusia itu analogi seperti pabrik mobil Mercedes.

Mercedes ngga cuman ngeluarin satu jenis mobil saja. Contohnya saja, Mercy ngeluarin bis, sedan, dan mobil F1. Setiap mobil dirancang khusus untuk tujuan khusus. Setiap tipe tersebut bisa saja punya bagian-bagian yang sama tetapi spesifikasi desain dan komponen yang berbeda. Kalau urusan jumlah penumpang, ya pakai bis, kalau urusan style bisa pake sedan, dan urusan balapan ya pakainya yang F1.

Dibalikin ke manusia, Tuhan menciptakan manusia sama, sesuai gambarNya kok. Bagian-bagian tubuhnya sama, ada kepala, badan, tangan, kaki. Ada organ-organ tubuh, tulang, ada darah, sama-sama ngehirup oksigen, dst. Lebih dari itu, Tuhan kasih desain masing-masing yang berbeda. Wajah yang berbeda, warna kulit yang berbeda, bentuk mata, mulut, dan semua hal-hal yang kelihatan mata juga yang ngga kelihatan. Selera makan, selera humor, atau bahkan talenta dan tujuan hidup yang berbeda. Tuhan punya rancangan dan tujuanNya kenapa saya ada sekarang.

Kalau disadari, perbedaan-perbedaan itu ngga perlu diperdebatkan. Kenapa harus berdebat tentang sesuatu yang jelas-jelas berbeda? Daripada cape-cape debat lebih baik yang dibicarakan justru bagaimana cara untuk memaksimalkan/mengoptimalkan hal-hal yang udah Tuhan kasih. Bangun persahabatan dengan orang lain dan sharing bagaimana cara orang-orang lain mengoptimalkan yang udah Tuhan  percayakan.

Jika setia dan bersyukur sama kado-kado kecil, Tuhan juga akan beri kado yang lebih besar. Semua juga ada waktuNya untuk terima kado yang lebih besar, kalau memang menjadi kebutuhan dan punya kerendahan hati untuk terima tanggung jawab yang lebih besar.
Barang makin mahal, makin mahal juga maintenancenya.
Praise God!


_JP

Tuesday, November 12, 2013

Winners Never Quit!

Never Quit!
1. Running with no destination is tiring. 
Running towards a wrong goal is 
not only tiring but also a complete waste of time


2. If the seed is bad, the fruit will be bad

3. Sharing your journey with others adds color into your life. 
Do good to others! It leaves a good impression on them 

4. Enjoy the journey as much as you can. Worrying does not change anything

5. Pay attention to the details. It could make a difference.. Seriously!

6. Thinking outside the box is good. But don't do it too often. 
The chance is, you might find nothing there.. 

7. Whatever happen, stick to your team. Without them, you can never win
8. No one is perfect but everyone must be good at least in something

9. When you make mistake, learn and then laugh 

10. Anything can be done! Just do it! Winners never quit, Quitters never win!! 



more good reads :
http://jessicaeabraham.blogspot.com/2013/11/10-things-i-learned-from-young-adult.html

Monday, October 28, 2013

Lift Up the Standard




Lift Up the Standard
“When the enemy comes in like a flood, the Spirit of the LORD will lift up a standard”
Yes 59 : 19

Selama belajar studio di arsitektur, salah satu omongan yang saya ingat dari dosen pembimbing adalah selalu menyiapkan buku standar. Bukan standar maksudnya rata-rata, buku yang biasa-biasa. Akan tetapi, lebih tepatnya buku pegangan mengenai informasi dasar/ standar tertentu yang dipakai untuk mendesain. Sebenarnya, dosen ‘memaksa’ membaca buku-buku ini supaya mahasiswa belajar untuk melakukan proses desain yang lebih bertanggung jawab, bisa dipakai. Ngga asal gambar.

Bersyukur ada orang-orang yang mau menyusun itu semua. Saya ngga tahu bagaimana mereka/ orang-orang melakukan risetnya, tapi waktu mahasiswa dulu itu sudah menjadi buku. Saya tinggal melihat daftar isi, buka halaman yang dituju, mencari dan memakai data yang saya perlukan. Mudah.

Desain yang bagus, tentu membuat dosen tidak segan-segan memberi nilai bagus. Bagaimana melihat bagus atau tidaknya? Yaa seberapa banyak mahasiswa melakukan riset untuk desainnya. Salah satunya apakah desainnya sudah sesuai dengan standar atau tidak.

Apa yang ramai diberitakan media belakangan sebenarnya kejadian yang mirip. Urusannya ngga jauh dari yang namanya standar. Ada dua berita yang membuat saya tertarik untuk sedikit analisis.

Pasar Tradisional vs Pasar Modern
Mengapa yang satu lebih ramai (baca laku) dibandingkan yang lain. Mengapa pasar modern/supermarket bisa mendatangkan pengunjung lebih banyak padahal harganya lebih mahal dibandingkan pasar tradisional?

Peraturan dan sanksi tidak membereskan masalah. Ketika pihak otoritas/pemerintah hanya membuat peraturan yang ‘membatasi’ pihak pasar modern, maka mereka akan selalu mencari cara dan celah untuk melawan aturan. Di sisi lain, peraturan akan membuat pihak yang lebih lemah, pasar tradisional, menjadi lebih cemen dan manja. Karena mereka akan berpikir selalu ada yang membantu.

Saya yakin pemerintah sudah melakukan studi ini. Masalahnya bukan pada harga, tempat yang berAC atau tidak, ada WiFinya atau tidak, atau segudang fasilitasnya. Utamanya, bagaimana menyediakan pelayanan yang baik buat pengunjung. Orangnya.

Kalau orang sudah memutuskan mau melayani orang lain dengan 100%, maka ia akan mencari cara bagaimana membuat orang lain merasa nyaman, tenang, dan aman di mana dia berada. Dari sanalah mulai muncul solusi seperti ATM, AC, tempat yang bersih, tidak bau, sehingga orang merasa nyaman berada di dalamnya.

Pengunjung memilih pasar modern dengan harga yang lebih mahal dengan pertimbangan membayar kenyamanan yang diberikan supermarket. Rasanya hampir mirip dengan cerita Angkot dan Taksi.
Pasar tradisional bisa mengejar kualitas itu dengan lebih memerhatikan standar kenyamanan yang dibutuhkan pengunjung. Mungkin belum tentu memerlukan WiFi, tapi bisa fokus pada standar/faktor kenyamann yang utama, psikologi pengunjung. Kesehatan, keselamatan, kenyamanan, keamanan.

Bagaimana orang mau berkunjung ke pasar tradisional bila cerita yang beredar sering ada kecopetan, bau ngga sedap, sampah, becek, harus panas berdesak-desakan. Contoh kasus perbaikan pasar di Solo dan Jakarta, saya lihat upaya bagus pemerintah untuk menaikkan standar lokal. Ini juga merupakan kesempatan bagus buat para pedagang lokal/kecil. Orang-orang ini perlu diajar dan dilatih bersaing setelah sekian lama dimanjakan oleh banyaknya aturan pemerintah.

Apakah mereka mau diajar dan dilatih atau memilih tetap menjadi manja?

Pegawai vs Outsourcing
Kasus kedua, buruh yang menuntut dihapuskannya outsourcing. Sama dengan kasus di atas. Bila pemerintah memberikan aturan untuk melarang outsourcing, maka akan membuat buruh di Indonesia semakin manja. Para buruh yang meminta upahnya menjadi 3,7 juta, setelah sebelumnya dinaikkan menjadi 2,2 juta, bisa jadi adalah salah satu bukti bahwa orang di Indonesia tidak bisa di-baik-in.
Solusi utama yang perlu dicari adalah apa yang menyebabkan perusahaan-perusahaan menggunakan sistem outsourcing dibandingkan mengambil pegawai sendiri?

Jawabannya saya lihat sendiri. Bisa jadi, ini menjadi salah satu alasan yang sama. Para pegawai ini ngga punya standar integritas yang cukup bisa dipercaya. Mungkin ngga semua buruh/pegawai seperti ini. Tapi pepatah Indonesia sendiri bilang “ Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Gara-gara ada orang-orang yang ngga benar, semua kena batunya.

Seberapa sering pegawainya sendiri yang menjadi ‘maling dalam rumah’. Seberapa sering pegawai tersebut ‘menghilang’ ketika dibutuhkan, dsb. Sistem outsourcing memudahkan perusahaan-perusahaan tadi untuk mengontrol kerja. Bila ada laporan tidak puas, tinggal melapor ke perusahaan jasa outsourcingnya.

Jika pemerintah sudah mau memfasilitasi, apakah pihak buruh ada upaya untuk memperbaiki standarnya. Bagaimana pemilik perusahaan mau mempekerjakan karyawannya sendiri kalau kerjaannya hanya berdemo. Waktu berdemo pabrik/perusahaan tidak bisa beroperasi dan justru mengalami kerugian. Padahal pemiliki perusahaan perlu pabriknya beroperasi supaya bisa tetap menggaji karyawannya.

Solusinya sebenarnya sudah ada. Sambil berjalan, para buruh harus mau diajar dan diberi pengertian untuk menabung dan simpan uangnya. Kalau masih keukeuh merasa kekecilan, harusnya mulai berpikir untuk membuka usaha.

Ada kondisi sosial di masyarakat juga yang agak keliru dan disalahartikan. “Banyak anak, banyak rejeki”. Iyah, nanti kalau nanti anaknya sudah besar dan jadi-jadi. Tapi sebelum itu kan harus proses dulu. Kondisi kawin-cerai, kawin siri, poligami, memerlukan banyak tuntutan ekonomi!

Gimana usaha para buruh/pekerja supaya para pengusaha mau mengembalikan rasa percayanya pada staff sendiri daripada ke pihak outsourcing?

"Kepercayaan itu sangat susah didapat tapi sangat mudah hilang"

Agak keluar dari topik, tapi contoh kasus cerita pengemis di Bandung, heran juga kalau pemerintah sudah ada upaya untuk memberi hati, tapi yang dikasih minta jantung.

Pray for Indonesia, Jesus Bless Indonesia!

Wednesday, August 07, 2013

Manusia : Ciptaan Allah



Mazmur 139 : 14
"Aku bersyukur kepadaMu oleh karena kejadiank dahsyat dan ajaib;
ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya"

Seberapa berharga manusia di mata Allah sampai-sampai anakNya harus turun?
Bukti itu saya temukan tidak jauh-jauh dan berada di tengah-tengah Alkitab. Allah sudah menyatakannya sejak awal.

Saya temukan di kitab pertama, Kejadian, bahkan di pasal yang pertama juga.

Kejadian 1:25
“Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik
“…and God saw that it was good” (KJV)

Ayat 26-30
Ayat ini menceritakan penciptaan manusia serupa gambarNya. Allah memerintah supaya manusia berkuasa di bumi, Allah memelihara manusia dan ciptaanNya dengan segala jenis tumbuhan dan pohon-pohon sebagai makanan.
Kejadian 1:31

“Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itu hari keenam”
Saya merasa lebih pas dengan terjemahan versi Inggrisnya :

“And God saw every thing that he had made, and behold, it was very good” (KJV)

Sebelum penciptaan manusia, Allah mengatakan sebatas “baik”, tetapi setelah penciptaan manusia, Allah mengatakan “sungguh amat baik”.

Kalau Tuhan menciptakan anak-anakNya dengan “amat sangat baik”, kenapa kita tidak memberikan pelayanan dengan kualitas yang “amat sangat baik” juga.


**Saya berdoa untuk Jokowi-Ahok, karena Jakarta, eh Indonesia sedang dipegang orang yang benar dan bersih.

God Bless Indonesia!

Thursday, June 06, 2013

Nick Vujicic - Be Thankful




"You can be angry of what you don't have or be thankful of what you do have"
From a man without arms and legs - Nick Vujicic

Satu hari, saya baca post /share temen di FB, “EJ” tentang quote orang ini. Saya jadi teringat daftar “utang” gambar orang/tokoh-tokoh yang saya buat awal tahun ini. Daftar orang/tokoh di Indonesia atau di dunia yang - menurut saya – cukup menginspirasi. Orang ini salah satunya. ASAP, akhirnya kelar juga gambarnya, sambil nyoba alat gambar baru, ballpoint.

Dari motivator-motivator yang pernah saya dengar, saya merasa orang inilah yang paling ngena. Bukan lagi menohok, tapi nonjok abis.

“Hargai apa yang kita punya, bukan yang kita tidak punya”

Kalimat ini sudah sering disampaikan, hingga sampai di mimbar-mimbar gereja. Namanya manusia, diomongin begitu pun banyak ngga mempan karena manusia secara umum lebih mudah percaya yang kelihatan mata. Ngga percaya karena mereka melihat apa yang dipakai si pembicara, bukan (mencoba) merasakan proses yang dia alami untuk sampai ada di posisinya sekarang.

Nah, untuk hal yang paling sederhana, jangankan harta melimpah. Anggota badan. Seberapa banyak 
yang menghargai karena punya anggota tubuh lengkap? Bahkan bersyukur punya jari tangan dan kaki 10. Ngga kurang, ngga lebih.

Sampai satu waktu saya “ketemu” Nick Vujicic. Ngga ada tangan, ngga ada kaki. Tapi, justru prinsip hidup dialah yang dipakai bisa menjadi motivasi buat orang lain... banyak orang lain. How cool is that!

Apa yang saya pikirkan tentang keadaan fisik saya (yang masih bertubuh lengkap, bertangan dan berkaki) sama sekali ngga ada apa-apanya.


God Bless Indonesia!
I have a bad day!
You don’t say!

Thursday, February 16, 2012

GOOD WILL HUNTING




“Tragedi tersebsar bukanlah kematian, tetapi kehidupan tanpa tujuan”
Rick Warren

Beberapa teman yang saya kenal sejak lama, kuliah psikologi di salah satu universitas ternama. Seingat saya, beberapa waktu lalu ketika kami mengadakan reuni kecil-kecilan, saya sempat bertanya apa yang dipelajarinya di jurusan itu. Karena, sejauh yang saya tahu, psikologi mempelajari human behavior atau perilaku manusia. Penelitian tentang ini sepertinya sudah berjalan sejak dahulu/lama, tetapi rasanya masih ada  bagian-bagian yang selalu menjadi misteri.

 Ngga hanya bidang psikologi, tetapi hampir dalam setiap bidang ilmu selalu ada hal-hal yang misterius. Alias, manusia belum bisa memahami dan mengerti. Entah itu memang belum dibukakan untuk dimengerti manusia atau sama sekali tidak dibukakan untuk dimengerti. Tuhan memang bekerja dengan cara yang tidak dimengerti manusia.

Disiplin ilmu yang saya pelajari, feedback-nya sedikit banyak berkaitan dengan penggunanya. Secara kasar, saya bilang, profesi yang berkaitan dengan disiplin ilmu ini tidak akan sukses jika tidak mendapat masukan/feedback dari si pemakai. Ahli dalam berteori tidak akan menjanjikan.

What do you want?
Good Will Hunting, film yang cukup lama. Cukup lama karena Matt Damon, Ben Affleck, dan Robin Williams yang bermain di situ masih terlihat muda. Singkatnya, film ini mengajarkan menghargai kehidupan, memiliki tujuan hidup, manfaatkan dan optimalkan apa yang dimiliki, dan seterusnya…

Singkatnya, menceritakan Will Hunting (Matt Damon) sebagai pemuda yang meskipun yatim piatu dan memiliki latar belakang yang kurang baik, ia mempunyai bakat untuk mengerti dan memahami dalam pelajaran sekolah dengan mudah. Jika Mozart atau Beethoven duduk di depan piano, mereka tahu bagaimana cara memainkan piano. Sama halnya dengan Will Hunting yang mengerti bagaimana menyelesaikan soal-soal matematika, kimia, dsb. ketika orang lain harus berjuang belajar untuk mengerti.

 Sampai satu waktu, seorang pengajar matematika menemukan dia sedang mengerjakan soal matematika yang ia “tantang” kepada mahasiswanya. Mengetahui memiliki punya bakat yang luar biasa, maka ia mencoba untuk mendekati dan mengajarkan anak ini daripada mengakhiri hidupnya di penjara karena perilaku buruknya di masyarakat.

 Apa yang menjadi pelajaran adalah, apa yang Anda mau dengan bakat-bakat luar biasa yang tidak dimiliki orang lain? Saya percaya bahwa tidak ada orang yang tidak bisa melakukan apa-apa. Tuhan tidak menciptakan manusia tanpa persiapan apa-apa. Setiap orang punya bakat spesifiknya masing-masing. Katakanlah, sekarang saya tahu bakat-bakat apa saja yang Tuhan percayakan kepada saya, apa yang akan saya lakukan dengan itu?

Apa yang menggerakkan kehidupan?
“knowing your destination is completing half the journey”

Kenal tujuan memberi makna bagi kehidupan. Tidak ada hal yang lebih penting dari mengetahui tujuan hidup. Tidak ada yang bisa mengganti kerugiannya jika tidak mengetahui tujuan-tujuannya. Entah tujuan itu mengantarkan kepada keberhasilan, kekayaan, kepopuleran, atau kesenangan. Tanpa suatu tujuan, kehidupan bagaikan gerakan tanpa makna, tanpa arah, dan tanpa alasan. Kehidupan seperti tidak berarti.

Sama halnya dengan Will Hunting. Ia sadar bahwa dirinya bisa memahami dan mengerti ilmu-ilmu yang pada umumnya menjadi kesulitan buat orang lain, tetapi hari-harinya lebih sering dipakai untuk bermain bersama teman-temannya. Di situlah Prof. Lambert berusaha untuk menyadarkannya lewat bantuan temannya Dr. Sean. Kehidupan bukanlah sekadar yang ada sekarang.

Sharing Dr. Sean tentang masa lalu dengan istrinya yang telah meninggal, merupakan suatu pengalaman yang bukan harus disesali tetapi disyukuri. Ia merasa puas dan bangga karena momen tersebut dipakai untuk suatu tujuan yang disadari oleh dirinya. Hal itu memberikan gambaran bagaimana suatu pengalaman hidup yang dinikmati karena diarahkan dengan tujuan dalam hidup. Kenal tujuan setidaknya memberi makna bagi kehidupan, memudahkan kehidupan, membuat hidup punya fokus, dan memotivasi kehidupan.

Pelajaran lainnya adalah Will Hunting mendapat pelajaran tidak hanya dari pengalaman hidup Prof. Lambert dan Dr. Sean, tetapi memiliki lingkungan teman-teman yang mendukungnya untuk berkembang melihat dirinya punya kelebihan.

Wake up call, apa yang seharusnya tidak saya lakukan lagi dan hal apa yang seharusnya mulai saya lakukan sejak saat ini? Apa yang ada di depan tergantung keputusan yang diambil saat ini.

God Bless You, God Bless Indonesia!

Merry Christmas 2015!