Showing posts with label My Pensieve. Show all posts
Showing posts with label My Pensieve. Show all posts

Monday, December 29, 2014

Review 2014 : Comfort Zone


Berkaca pada kejadian selama setahun ini, salah satu pelajaran yang bisa diambil adalah
keluar dari zona nyaman.

Pengalaman selama ini saya bisa bandingkan dengan pertandingan Amazing Race. Sebuah reality show yang cepet-cepetan nyampe di tempat tujuan, sambil melakukan berbagai tantangan. Nah dalam setiap tantangan, setiap peserta akan diberikan pilihan untuk memilih tantangan mana yang mau dilakukan. Pasti, semua peserta juga memilih tantangan yang diduga/dikira sesuai dengan kemampuan si peserta. Ada satu istilah dalam permainan tadi, yaitu Detour di mana peserta diminta mengambil jalan putar untuk ke tempat tujuan. Agak tricky, harus cerdas apakah detaour ini akan mempercepat perjalanan atau menghambat.

Ada saatnya seseorang harus keluar zona nyaman. Zona ini memang kelihatannya enak banget. Tapi berada di dalamnya bukan menjadi pilihan satu-satunya. Keluar dari zona ini juga bukan berarti bakal mati total. Sama seperti permainan tadi, harus cerdas juga keluar dari zona nyaman bukan mencari a dead end  tapi detour dalam perjalanan (hidup).

Berada terlalu lama di zona nyaman, berarti makin sedikit tantangan yang diterima. Semakin dikit tantangan yang diterima, makin sedikit juga usaha untuk mengembangkan diri.

Salah dua hal yang dipelajari adalah yang namanya menjadi guru atau dosen, tanggung jawabnya tidak hanya sebatas mengajar dan mengajar tapi juga menjadi pendidik. Zaman sekolah sekarang berbeda dengan zaman sekolah dulu. Lagi, harus cerdik dan cerdas dalam mengajar dan mendidik.

*Keep praying for QZ 8501*

Pray for Indonesia, Jesus Bless Indonesia!

Wednesday, December 18, 2013

My 5th Travel Sketchbook : Profile

5th sketchbook profile
Profiling
Sejak 2-3 tahun lalu, saya "memulai" hobi baru sebagai urban sketcher. Mulailah untuk membeli sebuah buku untuk dipakai menggambar di mana pun dan kapan pun. Saya selalu bawa di dalam tas.

Sejak saat itu juga, mencoba untuk membuat profil buku sketsa yang saya pakai. Pada awalnya, supaya ke depan saya tahu tentang buku yang pernah dipakai. Profil itu saya tempel di halaman terdepan setiap buku sketsa. Tempelan-tempelan ini biasanya berupa informasi tentang buku yang ada di bungkus plastik/ sampul waktu pertama kali beli yang biasanya seringkali dibuang.

Sederhananya, saya gunting dan tempel bagian-bagian tersebut. Informasinya singkat dan cukup sederhana. Umumnya, tertulis ukuran kertas, jumlah kertas, warna kertas, serta tipe kertasnya sendiri.

Dari buku sketsa pertama hingga kelima ini, salah satu informasi yang penting dicari adalah tulisan "acid-free paper". Info ini saya dapat dari blog seorang urban sketcher juga, beberapa tahun lalu. Tujuannya, supaya kertas tidak mudah berubah warna, gambar pun tidak mudah pudar, apalagi yang menggambar menggunakan warna, cat air, marker, spidol, etc.

the 5th
Konsep di buku ini, saya mencoba tidak hanya menggambar, tetapi juga mulai sedikit menulis cerita/doodle yang mendukung gambar. Saya usahakan untuk post setiap gambar dan cerita di sini.

Ngga kerasa hampir setahun, buku kelima sudah hampir tamat. Bukunya beli di Books & Beyond BIP, saat itu, sedang cuci gudang!
Jadi, bukunya setengah harga! Yeaah!

Salah satu fitur buku ini yang tidak saya dapat di empat buku sebelumnya adalah halaman yang polos-bergaris. Cocok untuk kebutuhan menggambar dan menulis. Walau pada akhirnya, menulis di tempat polos, atau menggambar di halaman bergaris.

Satu yang dirasa kurang, kertasnya terlampau tipis untuk memakai cat air/marker. Warna tidak keluar dan cenderung tembus. Sama halnya dengan penggunaan brush pen.

Untuk itu, sepanjang buku ini, hanya menggunakan Pilot Hi-Tech 0.3 / 0.4. Itu pun masih agak tembus. Setiap gambar berbayang ke lembar belakangnya ketika di scan.

Mungkin beberapa lembar sisa bisa saya tamatkan sebelum akhir tahun. Tahun baru, memulai dengan buku yang baru.


Saya berlatih untuk mengasah bakat, ketika saya tahu bahwa menggambar bukan talenta alami, maka saya banyak-banyak belajar supaya bisa menggambar, syukur-syukur jadi menemukan talenta baru.
Sama dengan hal lainnya, apalagi yang sudah menjadi talenta sejak awal.

Pray for Indonesia, Jesus bless Indonesia!

Thursday, November 14, 2013

God Provides

 




Tuhan menciptakan setiap manusia itu analogi seperti pabrik mobil Mercedes.

Mercedes ngga cuman ngeluarin satu jenis mobil saja. Contohnya saja, Mercy ngeluarin bis, sedan, dan mobil F1. Setiap mobil dirancang khusus untuk tujuan khusus. Setiap tipe tersebut bisa saja punya bagian-bagian yang sama tetapi spesifikasi desain dan komponen yang berbeda. Kalau urusan jumlah penumpang, ya pakai bis, kalau urusan style bisa pake sedan, dan urusan balapan ya pakainya yang F1.

Dibalikin ke manusia, Tuhan menciptakan manusia sama, sesuai gambarNya kok. Bagian-bagian tubuhnya sama, ada kepala, badan, tangan, kaki. Ada organ-organ tubuh, tulang, ada darah, sama-sama ngehirup oksigen, dst. Lebih dari itu, Tuhan kasih desain masing-masing yang berbeda. Wajah yang berbeda, warna kulit yang berbeda, bentuk mata, mulut, dan semua hal-hal yang kelihatan mata juga yang ngga kelihatan. Selera makan, selera humor, atau bahkan talenta dan tujuan hidup yang berbeda. Tuhan punya rancangan dan tujuanNya kenapa saya ada sekarang.

Kalau disadari, perbedaan-perbedaan itu ngga perlu diperdebatkan. Kenapa harus berdebat tentang sesuatu yang jelas-jelas berbeda? Daripada cape-cape debat lebih baik yang dibicarakan justru bagaimana cara untuk memaksimalkan/mengoptimalkan hal-hal yang udah Tuhan kasih. Bangun persahabatan dengan orang lain dan sharing bagaimana cara orang-orang lain mengoptimalkan yang udah Tuhan  percayakan.

Jika setia dan bersyukur sama kado-kado kecil, Tuhan juga akan beri kado yang lebih besar. Semua juga ada waktuNya untuk terima kado yang lebih besar, kalau memang menjadi kebutuhan dan punya kerendahan hati untuk terima tanggung jawab yang lebih besar.
Barang makin mahal, makin mahal juga maintenancenya.
Praise God!


_JP

Thursday, October 17, 2013

Travel Sketch – Hills Conf 13 (1), Bandung-Jakarta-Spore



Gambar dan Cerita?
Lukisan/gambar bisa menggambarkan ribuan kata, tapi pasti akan lebih menarik bila ada ceritanya juga.

Jadi, ceritanya, ada orang yang bertanya, kenapa gmbar-gambar sketsa yang saya post dengan tem "Travel Sketch" di jejaring sosial ngga dibuat ceritanya juga. Ada beberapa alasan selama ini. Tapi, singkatnya terutama untuk membatasi diri saja. Banyaknya jejaring sosial/teknologi/internet saat ini, cukup mengerikan saya bilang untuk urusan menjaga privasi.

Keberadaan seseorang bisa sangat mudah dilacak. Sedang dimana, sedang apa, apa yang sedang dilakukan, bersama siapa, kapan, dll. Akhirnya, saya sendiri memutuskan menggunakan beberapa sosmed saja, sisanya saya tutup.

Walaupun di sisi lain, saya bisa membatasi cerita apa saja yang mau saya share lewat gambar-gambar yang di post.
Saya mencoba merekam perjalanan Hills Conf 2013 awal Juli 2013 lalu.

Hills Conference 2k13
Perjalanan Hills Conf 2013, dimulai beberapa hari sebelum hari H. Berangkat dengan travel dari Bandung ke bandara Soetta. Cukup banyak yang berangkat ke bandara, walaupun tujuan terminalnya berbeda-beda.

Menggambar di transportasi publik memang menyenangkan, tapi sulit dilakukan sering-sering karena goyangannya. Agak sulit untuk menggambar bagus. Macet beberapa saat karena perbaikan jalan tol yang amblas, saya sempat sedikit corat-coret tentang keadaan di dalam mobil.

Padat merayap di jalan tol + 30 menit akibat jalan amblas.

Sampai di bandara lebih awal, sekaligus menunggu teman, ‘E’ untuk berangkat bareng, prepare supaya tidak ketinggalan pesawat. Di terminal 3, lagi menyempatkan diri untuk menggambar kondisi waktu itu. Orang-orang yang ramai mengantri check-in.

Terminal 3, International Check in.
 
Setelah check in, lagi menunggu jadwal penerbangan pesawat. Lagi corat-coret di ruang tunggu. Ini sketsa kedua di ruang tunggu terminal 3 Soetta. Ruang tunggunya kelihatan penuh banget. Ternyata, ada penerbangan yang kena delay. Thank You Lord, penerbangan saya dengan tujuan yang sama ngga di-delay.

Lagi, corat coret di Ruang tunggu...
Penerbangan singkat, saya merasa agak kagok untuk tidur. Lagi, sketsa keadaan di dalam pesawat. Menggambar di dalam pesawat pertama kali saya lakukan ketika perjalanan ke Israel. Ini kesekian kalinya, tapi yang kedua kali untuk pesawat Air Asia. Sebelumnya, saya menggambar Air Asia di perjalanan pulang dari Bali-Bandung waktu mengikuti acara Arcasia di Bali.

Gambar di dalam Air Asia, kedua kali. Jakarta-Singapore

Penantian di SG cukup lama karena menunggu jadwal pesawat pukul 02.30, menunggu sekitar 5-6 jam. ‘E’ tidur karena tidak enak badan, saya keliling melihat-lihat bandara sambil cari makan. Sekitar 1 – 1,5 jam sebelum boarding, kami coba cari tempat check-in airline yang dipakai. Ternyata beda terminal. Begitu sampai, antriannya keburu mengular. Setelah jalan cukup jauh dari tempat check-in ke ruang tunggu, ternyata masih ada waktu untuk menunggu.
Salah Terminal. Ternyata airline nya di terminal sebelah.

Cara pergi ke negeri kangguru ini salah satu cara yang murah. Direct flight memang mahal kecuali mendapatkan promo dari airline ‘G’. Info ini saya dapat dari kakak beradik ini berhubung saat itu mereka pernah dan sedang bahkan masih suka ke Aussie.

 “Kerugian” nya, hanya perlu menunggu flight dari ‘FC’ yang biasa terbang subuh. Mungkin agak sulit buat orang tua. Meski subuh-subuh, antrian yang panjang cukup membuktikan banyak peminatnya.
Pemandangan dari ruang tunggu. Luggage Tag buat barang kabin, bungkus creamer dan kopi dan bon yang diminum saat gambar di pesawat.

Ketika boarding dan take off, tidak banyak penumpang yang masih beraktivitas. Saya melihat-lihat, ada beberapa orang menyalakan lampu kursinya untuk membaca koran atau majalan. Suasana cukup tenang, saya coba gambar lagi di dalem pesawat “FC” dengan segelas kopi. Baru menikmati perjalanan 6 jam.
Jam setengah tiga pagi! Cap kopi, as usual. Cara yang saya ikuti dari trademark urbansketcher Singapore. Tia Boon Sim


Friday, September 20, 2013

Bucket List


Panic?


Mungkin hampir semua orang punya daftar ceklist tentang macam-macam hal. Saya sendiri punya cukup banyak daftar berdasarkan kategori-kategori. Misalnya tempat-tempat tujuan traveling, tempat /obyek yang mau disketsa/digambar, daftar orang-orang untuk sketsa portrait, dan lain-lain lagi.

Nah, biasanya kalau ada momen/kejadian/sesuatu yang terjadi sesuai salah satu daftar tadi, saya kasih tanda ceklist di sebelahnya, menunjukkan bahwa saya sudah pernah.
Beberapa hari lalu, saya tidak men-ceklist daftar yang sudah ada, tetapi saya justru menulis baru untuk daftar yang satu ini.

Daftar ini adalah Momen menyeramkan/menegangkan. Daftar ini berawal dari ide untuk membuat daftar kejadian-kejadian konyol yang pernah terjadi. Ternyata, semakin ditulis, kok kayanya ada kejadian yang kalau dipikir-pikir eh menyeramkan juga. Bikin merinding atau meringis. Ugghh.

Contohnya saja, kejadian-kejadian waktu kecil yang saya tidak ingat. Waktu berkaca, saya membatin, “Ini ada bekas luka jahitan, dari mana karena apa, ya?” Jadi, diceritakanlah kejadian sebenarnya setelah bertanya ke ortu. Dari sana, berlanjut lagi-lah cerita-cerita lainnya. Haha

Eyelash
Jadi, saat melakukan rutinitas di kamar mandi untuk sikat gigi, keramas, dan cuci muka, saya merasakan ada yang sedikit mengganggu di bagian mata kanan. Saya pikir,”Ah, biasa paling juga bulu mata yang lepas. Tinggal cabut beres.”. Sambil bercermin, “Ya Tuhan!”. Bulu mata yang lepas ternyata ada di dalam kelopak mata, menempel di bagian putih mata! Akkkhhhh….

Singkat cerita, 10-15 menit perjuangan yang seperti terasa lama banget, akhirnya bisa dikeluarkan juga. Jangan tanya detail kejadian cara mengeluarkannya. Di akhir ‘pertandingan’, matanya cukup merah. Euuww..

Just…small thing
10-15 menit yang sangat menegangkan. Sejujurnya, saya cukup panik, blank juga. Saya Cuma bisa ngomong, “Tuhan tolong, Tuhan tolong…” sambil mikir gimana cara mengeluarkannya. Bilas-bilas dengan air hangat, air dingin, sampai meniup-niup ke cermin berharap anginnya memantul =_=

Lewat kejadian kecil itu saja saya bisa mengucap syukur “Thank You LORD!” atas apa yang terjadi. Bagaimana hal kecil yang dianggap biasa menjadi tidak biasa karena cara pandang yang tidak biasa. Ketika saya berpikir kejadian lepas bulu mata adalah hal yang biasa, tetapi saya panik ketika kenyataannya berbeda dari apa yang biasanya saya alami.

Orang-orang bilang “Pengalaman adalah guru terbaik”, tetapi jangan salah juga bahwa di satu sisi “Pengalaman adalah guru terjahat”. Pengalaman bisa menjadi ‘jahat’ karena membuat saya (mungkin orang lainnya juga) menjadi lengah dengan keadaan.
Saya sadar bahwa sampai hal terkecil pun Tuhan masih ikut campur.

Eyelash : Checked! :D

Thank You Lord!

God Bless Indonesia!

My Help Comes from the Lord



"Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu" Maz 17:8


Rabu, 18 Sept 2013

Hari itu tidak ada jam mengajar. Tenaga pengajar yang ada diminta membantu menjadi pengawas ujian sesuai jam mengajarnya. Saya (akan) kebagian dua shift, karena saya mengajar jam pagi dan siang. Selesai ujian pertama, ternyata guru yang ada sudah cukup meng-cover semua. Waktu sisa saya pakai untuk mengobrol dan tukar pendapat dengan guru-guru lain yang tidak mengajar di lobi sekolah.


Selesai itu, kami bertiga, saya Mr. F dan Mr. P jalan kaki ke Istana Plaza untuk makan siang, mencoba “saung” makanan Jepang yang dibuka Mr. F di IP, Tokyo Addict. Diskon? Tentu! :P (tengkyu Mr. F!). Dia bahkan yang melayani langsung saya dan Mr. P. Selama makan pun kami masih ngobrol-ngobrol tentang makanan! :D


Sebelum makanan datang, saya dan Mr. P menunggu di meja sambil menunggu Mr. F melayani customer. Kami berdua didatangi mba-mba berkerudung. Ia mengaku dari Yayasan Kanker bla-bla-bla(saya ngga ingat). Ia bertanya apakah kami mengetahui tentang yayasan tersebut sambil mengeluarkan booklet. Ternyata ia sedang ‘promosi’ minta bantuan donasi ditukar dengan booklet tadi yang isinya katanya kupon-kupon restoran. Kupon diskon dst.


Saya melihat-lihat (agak kepo restoran/tempat makan apa saja yang ikutan) sambil ia cerita-cerita tentang yayasan tadi (yang saya ngga dengar sedikitpun). Belum selesai dia bicara, saya terkejut tiba-tiba kami didatangi dua orang satpam (memegang senpi!) dan dua orang berkemeja berdasi. Yang satu dengan tas selempang, yang satu lagi dengan handy talkie. Orang dengan HT menyuruh mba-mba tadi membereskan booklet yang ada di meja, lalu digiring oleh satpam. Entah dibawa ke mana. Tak lama makanan datang. Sluurpp.


Yeah. Penipuan.


Sangat tidak sulit untuk mengucap syukur karena selalu saja ada hal-hal yang menjadi alasan untuk bersyukur. bebas perut lapar, bebas mahal, bebas dari aksi penipuan pulak.  

Thank you Lord!



I lift up my eyes to the hills
Where does my help come from
My help comes from the Lord
My help comes from the Lord
My help comes from the Lord
Maker of heaven and earth

(Don Moen – My Help Comes from the Lord)

God Bless Indonesia!

Wednesday, September 18, 2013

The Calling


Point of View


Suasana saat itu sangat riuh rendah. Ia melihat sekelilingnya, seperti berada di sebuah stadion berbentuk arena dengan tribun penonton yang bertingkat. Ia maju dan lebih mendekat ke pinggir, berpegangan erat agar tidak jatuh, ternyata ada di tingkat ke tiga atau keempat. Anak itu sadar berada di posisi yang cukup tinggi. 

Setelah berada di pinggir, ia melihat semua bagian tribun tampak sangat dipadati orang-orang. Orang-orang sebaya di tribun yang sama dengannya pun banyak yang mendekat ke pinggir untuk melihat keadaan sekeliling lebih jelas. Di atas mereka pun ternyata masih ada beberapa tingkat lagi, tapi anak itu tidak bisa melihat terlalu jelas. Ia hanya bisa melihat orang-orang yang berada jauh di seberang tempat duduknya. Semakin ke bawah ia hanya melihat orang-orang yang lebih tua, sedangkan ke atas ia melihat sepertinya berusia di bawah dirinya.

Di bagian paling bawah arena, ia melihat ada cukup banyak pintu masuk yang mengelilingi arena. Ia melihat sesekali-beberapa kali orang-orang berjalan keluar melalui pintu ini ke arah tengah arena. Disana terlihat seperti ada panggung/stage yang beringkat-tingkat juga. Meskipun begitu, tingginya tidak mencapai tinggi tribun pertama.

Orang-orang seperti menunggu giliran untuk naik ke atas panggung. Dari paling bawah ke panggung pertama, dari yang pertama ke dua, dan seterusnya. Ia melihat ada juga orang-orang yang turun dari tangga di ujung lainnya. Ada pula yang kelihatannya diam di tingkat panggung tertentu.

Panggung sebesar itu tidak pernah terlalu penuh atau terlalu kosong. Setiap ada orang yang naik atau turun, orang-orang disekitarnya seperti bersukacita bertepuk tangan, bersorak-sorai. Ia tidak bisa mendengar jelas hanya menilai dari gesture dan gerakan orang-orang di bawah. 

Sampai satu saat anak ini mendengar suara seperti bel/terompet dibunyikan. Suara ini seperti yang pernah didengarnya. Mendadak suasana arena semakin riuh dari sebelumnya. Ternyata suara ini didengar juga oleh semua orang di arena adari tribun bawah hingga paling atas. Sebelum suara itu berhenti, ia dan orang-orang di sekitarnya mulai bergerak, tampak harus melakukan sesuatu. Entah mengetahui dari mana, tapi dalam hatinya merasa bahwa suara ini merupakan tanda panggilan buat semua orang untuk turun, menuju panggung utama di bawah. Sama seperti seorang ayah memanggil anaknya.

Saatnya tongkat estafet berpindah tangan...

Merry Christmas 2015!