Monday, May 11, 2009

The Internet never forgets

Email Lasts Forever 

Never, ever assume that an email you have sent is erased—even when you delete it from your own mailbox.

Remedy. 

Never write anything in an email that you would regret seeing publicized, regardless of whether it is sent via a professional or personal account. Never email anyone while angry, emotional, or intoxicated. If you must write an impassioned screed for catharsis, in no case should you hit the “send” button! Copy and paste the text into a Word document and let it sit on your desktop while you simmer down.


Blogs and Bulletin Boards

The Internet is a great democratizer, where we can publish our own thoughts and ideas for free. However, this freedom comes with risk. Consider not only the time consumed by online activities1 but the possibility that you might be judged not on your work, but on your viewpoints. Human nature being what it is, someone may make snap decisions about your suitability for a position without really knowing you. Or a student may hesitate to join your lab if he is afraid you might be biased against his political viewpoints. There’s a reason many bloggers use pseudonymous handles. A stray off-color remark can have serious consequences. (For example, student athletes have lost their scholarships for inappropriate posts.) Additionally, consider the potential cost of writing something negative about an advisor or colleague. Would you want the subject finding out what you said?

Remedy. 

Again, remember that the Internet is public. Even if you use a pseudonym, you might be tracked down by IP address, or otherwise lose your mask. As with email, blog posts can last forever, so always consider what you are writing and always be temperate. We each walk a fine line between prudent self-censorship and being true to ourselves. Defining that line is a personal decision by which we balance

the risks and rewards of an enriching online existence alongside our professional identity as scientists.


by Susan L. Forsburg,

Taken from ASCB Newsletter, April 2009, page 14-15

ASCB = The American Socciety for Cell Biology


from : hshandoyo.net

Sunday, May 10, 2009

Become a legend

Congrats, selamat atas kemenangan ‘perlombaan’ tesis TA-nya yang dapet juara 1 di seluruh Belanda…

Keep moving bro…!! Sukses dengan PhD-nya…
~pap, mam, an, sam…

berapa umurnya?

Satu cara ini bisa dibilang salah satu ‘tradisi’ turun temurun keluarga. Sejak jaman kakek gw dulu, beliau mengajarkan untuk membiasakan diri memberi tanggal pada barang-barang yang baru dibeli, dipakai, dsb, yang penting barang baru. Cara ini diturunkan ke nyokap gw dan saudara-saudarinya. Begitu juga kepada cucu-cucunya.

Nyokap gw juga selalu memberi tanggal pada barang-barangnya, sekaligus mengingatkan anak-anaknya untuk membiasakan hal ini. Dalam banyak hal, nyokap gw pakai cara ini. Salahsatunya menanggalkan barang seperti deterjen, bahan makanan, bahkan bolpen sekalipun.Sejak meninggalnya kakek gw, tradisi itu mulai ngelotok dan jadi kebiasaan yang ngga disadari lagi. 

Dari cara itu, sebenarnya kita bisa melihat seberapa apikkah kita? Dilihat dari ‘umur’ barang yang kita pakai. Apalagi kalau barang mahal, wajib diberi tanggal. Belajar supaya apik dengan barang, mencoba berhemat tapi bukan menjadi orang pelit. Lagipula, bila sudah menjadi orang yang apik, kita bisa lihat juga bagaimana kualitas suatu barang yang diproduksi. Apakah tahan lama atau memang barang murah(an). Buktinya, ada barang-barang di rumah yang telah merayakan HUTnya yang ke 20 tahun hingga sekarang, berdasarkan tanggal yang tertulis. LOL…

semurni emas

Satu lagi, kenapa Alkitab menulis bahwa pembentukan karakter harus seperti dalam dapur peleburan, bagaikan emas murni?

Gw mencoba memahami apa yang gw lihat dari NG, Discovery, BBC atau lain sebagainya. Emas merupakan salah satu logam yang tidak mudah membuatnya. Ia perlu dipanaskan hingga beberapa ribuderajat Celcius hingga meleleh. Ketika diambil dari tambang, emas bercampur dengan tanah dan materi-materi lainnya. Nah materi-materi ini yang menjadi semacam ‘sampah’ atau residu saat melelehkan emas. Residu yang naik ke permukaan emas ini harus diambil secara berkala untuk mendapatkan emas yang muni. Terus menerus hingga residunya hilang.Semua prosesnya harus dilakukan di dalam sebuah dapur api yang sangat panas, mencegah emas cairnya mengeras.

Beruntunglah di zaman sekarang, ketika pengetahuan dan teknologi berkembang. Emas cair dicampur zat-zat tertentu yang membantu memurnikan emas. Jelas terbayang bagaimana prosesnya zaman dulu?
Akan tetapi, setelah proses yang panjang itu, akan keluar sebuah emas murni yang berkilau yang mempunyai daya jual tinggi daripada emas sebelum diproses.

Pembentukan karakter merupakan suatu proses dan bukan merupakan sebuah proses instant. Namun, apa yang gw yakini adalah ketika seseorang berhasil melalui proses pemurnian itu, ia akan memiliki karakter yang dicintai semua orang dan menjadi manusia yang berharga.

Thursday, April 16, 2009

perihal memberi

Sejak kecil gw sudah diajari untuk belajar memberi… Pertama kalinya diajar untuk member perpuluhan dari uang jajan yang gw dapet dari ortu. Bahkan, tidak hanya di lingkungan keluarga, tapi juga perihal memberi ini juga diajarin di pelajaran PPKn yang gw dapet dr SD ampe SMA. Sampe sekarang pun gw belajar untuk terus memberi. Namun hal itu bukan perkara mudah.

Di suatu perjalanan angkot bersama beberapa orang teman, kita tiba di perempatan jalan, seorang anak (paling juga berumur belasan) dating untuk ngamen sambil nangkring di pintu angkot. Setelah selesai gw beri 100 perak. Gw berpikir bahwa hal semacam ini menjadi suatu dilemma.

Pada awalnya, gw pikir, biarlah gw beri, uangnya terserah mau dia apakan. Yang penting, bagian gw (memberi) sudah gw lakukan. Selanjutnya terserah dia (si yang dikasih) dan Tuhan aja. Di lain hal, kalau anak tersebut dikasih terus setiap ngamen, maka gw sendiri merasa tidak memberi pelajaran buat si anak tadi. Jangan sampai anak tadi pikir bahwa dengan ngamen bisa dapet duit, maka dianya bakal ngamen terus, terus, dan terus. Eh nantinya malah ngga bisa lepas dari dunia ngamen.

Lain cerita, setiap pagi gw pergi ke kampus dengan bokap dengan rute yang relative hamper sama, bahkan sama persis. Ada suatu traffic light dimana seorang pengemis biasa nongkrong. Sekali dikasih, dua kali, tiga kali,, eh jadi keterusan. Sepertinya dia sadar tiap mobil ini lewat, gw bakal dapet duid. Sejak itu ngga pernah dikasih lagi. Keterlaluan, jadi ngga mendidik.

Kalau udah begitu, mending ngga usah ngasih aja sekalian daripada di depan kita ngasih (pura2 baik tapi di belakangnya malah dongkol)…?? Tapi percaya atau tidak hati kecil manusia ada keinginan untuk selalu memberi dan menolong.

Kejadiannya terjadi juga beberapa waktu yang lalu. Ketika gw dan beberapa teman sedang jalan ke luar kampus untuk cari makan. Temen gw yang di depan terlihat berbicara dengan seorang anak SD. Menurutnya, dia minta uang untuk pulang. Sempat kita tinggalkan, tapi akhirnya kita “menyumbang” juga supaya (maksudnya) dia bisa pulang. Apa yang terjadi kemudian? Gw dan teman2 melihat anak itu jalan melewati warung tempat kami makan sambil memegang sebatang es krim. What the?? Uang yang kita kasih kah? Tak mau berburuk sangka, kita beramai-ramai berpikir positif saja, mungkin anak itu udah lama ngga dibeliin es krim oleh orang tuanya.

Yaah, kalau gitu, namanya memberi harus pake hikmat… Tuhan kasih hikmat ke manusia, dipake aja…jangan dibiarkan tersegel di kepala selamanya…;p 

Monday, April 13, 2009

salah pemahaman..

hmm gw merasa sangat senang kalau2 ada pemikiran gw atau apa yang gw kira bener ternyata ada "sanggahan" nya...

apa yang gw tulis dulu tentang keandalan bangunan memang ngga sepenuhnya kaya gitu... Tiap aspek keselamatan, keamanan, kenyamanan, kesehatan ternyata punya "kapasitas" nya masing2. Semuanya ada pada level yang sama. 

Jadi misal, kalo gw bilang kesehatan, maka faktor2 kesehatan seperti pemasukkan udara dll yang menyangkut kesehatan orang di dalamnya. Keamanan berarti faktor2 safety dari bangunan atau safety penggunanya. Faktor safety dari gempa, kebakaran, dll.. Bukan sepenuhnya hanya semacam rekasi berantai saja. Reaksi berantai yang gw pikirkan ternyata hanyalah sebagian kecilnya saja..

Nice...

Saturday, April 11, 2009

pemilu

mmm.. tanggal 9 kemaren, untuk kedua kalinya gw ikut pemilu langsung.. dengan cara baru lagi tentunya, di contreng...

ini pemilu atau tidak gw tidak berasa sebagai suatu hari yang "wah" atau gimana gitu... biasa aja. hal pertama, dateng ke TPS bareng keluarga di lapangan basket deket rumah, walau sudah ngga layak disebut sebagai lapang basket.

Pinggir2nya dibatasi oleh tiang2 bambu setinggi 80-100 cm, diantaranya ada tali-tali rafia yang diikat untuk pagar. Tapi,di bagian depannya ada 'lubang' karena tidak ada rafia diantara bambunya. Gw pikir pintu masuk padahal pintu keluar. Di mana 'pintu' masuknya? ternyata harus muter ke bagian belakang TPS.

Setelah memutar, gw dihadapkan dengan sebuah papan besar yang sudah ditempelin kertas2 segede gaban. Ni kertas untuk DPD, ini kertas untuk DPRD, bla bla bla... Dalam hati, ah ni siapa sih? gw ngga pernah kenal bahkan melihatpun belum pernah bahkan mendengar namanya aja ngga pernah.

Akhirya datang juga kesempatan nyontreng. 4 buah kertas yang dikasih panitia, terasa tebal. gw sangat yakin kertasnya bakal segede2 gaban kaya yang dipasang. Tempat nyontrengnya dr meja sekitar 3 meter x 60 cm, dibagi untuk 4 penyontreng. tiap orangnya ditutupi oleh  lembaran alumunium. Di 'box' penyontrengan, gw sempet berpikir, kenapa pemerintah harus repot2 keluarin biaya yang gede bahkan sangat gede untuk menyiapkan kertas suara. Kertas sebesar2 itu hanya diisi oleh garis bolpen yang ngga lebih panjang dari 20 cm? 15 cm?

___

Masih di hari yang sama, malam hari gw ngecek imel dan nyalain 'mesin' chat. Dapet sebuah link dr sodara... Ada seorang pemilih yang mencoba berkreasi dengan kertas suara. Hahahaha...funny enough.

dan setelah beberapa harinya, masuk berita banyak yang belum dapet kertas suara atau tida terdaftar sebagai calon pemilh. Sementara diluar sana, orang2 yang dapet hak unutk memilih, lebih cenderung maen2 dengan kertas suara. Apa tujuannya orang bikin partai dan ikut2an dunia politik?

Setelah lihat masa kampanye kemaren2 ini, dengan 'kreatifitas' tim suksesnya yang terpampang di poster2 dan baligo2... Gw atau orang2 harusnya mikir, apa orang ini mampu??? orang yang kaa gini mau memimpin negara? Apa kata dunia??hmmm...

Merry Christmas 2015!