Friday, December 12, 2008

on time

Jaman sekarang aja, teknologi udah maju banget. Teknologi maju mendorong globalisasi jadi makin pesat. Dan, kalo udah urusan ama yang namanya globalisasi, mau ngga mau diperhadapkan ama yang namanya kompetisi. Ya, makin banyak kompetisi dan persaingan untuk menjadi yang terkompeten. Supaya bisa masuk dalam suatu persaingan, perlu mental. Salah satunya, mental untuk on-time. 
  
Beberapa waktu lalu, sang penulis membaca sebuah tulisan pada baju merek lokal. Merek yang terkenal akan kata-kata humor atau plesetannya, bahkan sampai masuk MURI. Tulisan itu berbunyi, “Time is money, money is uang, uang is duit”. Sekilas lucu juga, tapi tulisan itu mencerminkan keadaan sekarang ini. Sementara negara-negara lain berusaha menghargai waktu sebaik mungkin, Indonesia belum bisa seperti itu. Kenapa yah? 

Sejak saat itu, sang penulis mulai memerhatikan hal sekitar yang berkaitan dengan on-time. 

Masih terlalu banyak kejadian2 yang tidak menghargai waktu walau di jaman yang udah mulai serba susah. Termasuk penulis, ia merasakan on-time itu sulit. 

Salah satu contoh dari penulis: 


Pertama, mahasiswa sekarang cenderung berlomba-lomba masuk kelas terlambat daripada masuk sebelum (mulai jam 7 masuk 6.45)/tepat waktu (mulai jam 7, masuk jam 7). Telatnya makin lama makin bagus. 
  
Kedua, berusaha menghindari mata kuliah dosen tertentu yang dianggap tidak menarik. Entah dosennya atau mata kuliahnya yang tidak menarik. 

Tiga, tiap kali ada pertemuan apapun, kata ”ngaret” makin biasa aja di telinga. Sepertinya sudah dijadikan hal yang wajar-wajar aja. Aneh bener. 

 Bakal jadi apa nantinya...!

ada banyak

ada banyak pemikiran
banyak pikiran
banyak yang dipikirin
banyak yang harusnya dipikirin tapi malah ngga dipikirin
banyak yang sebenernya ngga perlu dipikirin
banyak pikir-pikir yang ngga penting
banyak hal-hal yang kepikiran tiba-tiba
banyak yang tiba-tiba mikir
banyak yang setelah dipikir-pikir harusnya dipikirkan ulang sebelum akhirnya dipikir-pikir terus
 
banyak yang harusnya diceritakan
banyak yang harusnya ngga dipendem sendiri
banyak yang bagusnya minta satu pendapat orang aja
banyak yang bagusnya minta banyak pendapat orang
banyak yang seharusnya orang lain tahu
banyak yang harus diwaspadai
banyak yang perlu diprioritaskan
banyak yang ngga karu-karuan
banyak yang minta dihajar
banyak yang harus ditolong
banyak yang perlu dimintain tolong
banyak yang bikin darah naek
banyak segala-galanya
segala-galanya banyak
tangan cuman ada 2
harus mulai satu-satu

Friday, August 03, 2007

new adventure

waktunya tak lama lagi

saatnya berkoordinasi lagi sesama ars 2006

merentangkan sayap lintas fakultas lintas angkatan

tembus memandang kemurnian hati tiap individu

anggrek, benalu, lumut, mawar, ganggang

kerja keras dimulai

Wednesday, August 01, 2007

hargai hidup

Hari ini 1 Agustus 07. Pukul 00.18

Dalam masa jaga malam di Hermina, gw menemani bokap yang sudah seharian jaga, meninggalkan segala kesibukannya sampai-sampai lupa makan malam. Ia terpaksa pulang untuk jemput & balik lagi ke RS. Sampai di RS gw antar untuk makan di jajanan nasi goreng tepat di sebelah Hermina.

Tampak 3 orang sebagai “pengurus” tempat makan sepanjang 5 meter dan selebar trotoar. Salah seorangnya masih tampak muda. Gw taksir sekitar umur 18-20 tahunan. Seorang perempuan kulit putih berambut panjang dengan tinggi 155 cm-an.

Bokap gw sedikit mengobrol dengannya. Ya, ternyata dugaannya benar. Ia baru saja lulus dari sebuah SMK di Bandung. Ia berniat melanjutkan pendidikannya di jurusan administrasi UNPAD... kalau ada uang lanjutnya.

Gw yang duduk dan mendengar perkataannya hanya bisa diam sejenak. Lalu, tiba-tiba kepala ini dipenuhi pikiran-pikiran, pertanyaan-pertanyaan, hal-hal yang bikin gw sadar.
Melihat wajahnya saat ia bilang begitu. Sedikit tampak kepasrahannya akan studinya ke universitas. Bersama seorang lelaki (juga masih muda, gw pikir adalah kakaknya) dan seorang wanita berkerudung (gw pikir adalah ibunya) dengan wajah lelahnya sedang memasak pesanan bokap gw. Usaha yang dimulai sejak pukul 4 sore dan berakhir pukul 1 pagi ini memang tidak selalu ramai bahkan bisa saja tidak ada yang datang sama sekali.
Tak lama kemudian jadilah sepiring mie goreng yang nikmat dan mendiamkan perut yang sudah bernyanyi dari tadi.

Kepala gw masih dipenuhi pikiran. Introspeksi. Gw pikir bagaimana gw bisa mensyukuri hidup yang sudah Tuhan percayakan buat gw!
Kenapa ngga gw maksimalkan kesempatan itu kala masih banyak orang lain di luar sana yang ngga bisa seperti gw.
Mengapa justru gw selalu merasa ngga puas dengan apa yang ada & bersyukur ama Tuhan atas apa yang sudah gw punya sekarang?

”Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita selalu menyesali apa yang belum kita capai” (Schopenhauer)

Sunday, July 29, 2007

terima kasih

Sebagai manusia gw percaya adanya kekuatan di luar manusia yang bikin kita ada, bikin dunia ini ada, bikin semuanya ada. Gimana? Iman. Alkitab memang bilang begitu. Kita ada karna ada yang menciptakan. Masing-masing dengan ciri khasnya baik fisik ato sifat.
TAPI... Kebanyakan dari kita nga akan pernah puas ama yang Tuhan kasih.

Contoh,
1. Banyak orang yang jadi terobsesi karna pengen punya kulit putih. So, rame2lah beli produk pemutih kulit. Kemakan iklan. Iklan jadi menciptakan pola pikir yang salah bahwa wanita akan cantik kalo punya kulit putih. NO!

2. Rambut... Sana sini dicat warna warni jadi kaya pelangi ato rambutnya jadi kaya warna angkot jurusan ini ato angkot jurusan itu. Nga cukupkah dengan mahkota kepala yang ada sekarang?

3. Badan pengen tinggi tp males olahraga... Jadi (lagi-lagi) rame2 beli vitamin buat meninggikan badan, beli alat olahraga yang narik-narik badan dengan maksud tubuhnya 'melar' ke atas..

Jadi, apakah kita nga bisa PD dan berterima kasih ma Tuhan dengan apa yang ada di kita sekarang? Ato lagi-lagi karna tuntutan manusia jaman sekarang yang pengennya jadi perhatian dimana-mana?

Saturday, July 28, 2007

suatu kasus di jaman sekarang?

Makin ke sini, masalah orang-orang makin rumit aje. Padahal, kalo diliat lebih teliti ternyata hal-hal yang mereka alami tuh udah ada sejak dulu.

Salah satunya, perihal kosmetik. Teknologi yang berkembang di dunia ternyata memengaruhi perkembangan polusi dengan pesat juga. Nah, dunia bisnis memakai kesempatan ini buat meraup untung.

Mereka berlomba-lomba buat 'ramuan' ciamik supaya badan kita tetep sehat, kulit jadi halus dan putih, senyum tetap menebar, wajah tetap bersinar. Tapi, brapa orang yang tau kalo bahan yang dipake itu bener2 bagus dan bebeas bahan kimia berbahaya?

Kalo diliat, komposisi bahan jelas tertulis cukup rapi dan tertata baik, sampai2 ditulis dalam bahasa yang tidak dimengerti orang awam. Lha, jd gimana mau kita tau?
Pake ini-itu biar kita tetep jadi sorotan mata tiap cowo/cewe kalo lagi jalan di mall, supermarket, ato pasar tradisional sklipun.

Pake ya nga salah toh, tapi jangan berlebihan. Segala sesuatu yg berlebihan pastilah nga bagus. Namun, gimana lagi, fenomena (huluh, fenomena..) nya sekarang manusianya kaya gitu.. Makin individualis, narsis, apatis, bahkan ampe autis. Udah ngeliat begitu, bukannya ngebantu mereka keluar dari masalah, malah dijeblosin skalian lebih dalem..

Wednesday, July 18, 2007

Sick!

"sakit jiwa kali, ya, orang kaya gitu mah..."

Sebaik dan sekeras apapun usaha seseorang akhirnya musnah juga... Kedudukan. Orang udah dibuat gila bahkan cocok kalo dibilang sakit jiwa. Hanya karena memertahankan posisinya sebagai atasan, dia "rela" menyiksa bawahannya, marahin bawahan di depan bawahan lain dengan maksud mempermalukan...

Pertanyaannya, apa dia Si Penyiksa sadar? Pastilah sadar... Sekarang, saat ia tahu dirinya bakal turun, dia tak akan segan-segan untuk lebih menyiksa bawahannya lagi... Itung-itung ambil kesempatan terakhir... Sakit jiwa...

Merry Christmas 2015!